Kisah Abimanyu Gugur

- March 24, 2018
Wayang - Kematian Abimanyu secara tragis dalam Baratayuda menurut pewayangan adalah karena termakan sumpahnya sendiri. Waktu ia hendak menikah dengan Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati itu bertanya, apakah Abimanyu masih perjaka. Abimanyu menjawab, masih perjaka, Dewi Utari tidak percaya, karena ia mendengar kabar angin tentang perkawinan Abimanyu dengan Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna. Untuk meyakinkan kebenaran jawaban bohongnya, waktu itu Abimanyu berkata: "Aku benar-benar masih perjaka. Sumpah! Jika aku berbohong kepada Dinda, kelak dalam Baratayuda nanti aku akan gugur secara aniaya dengan tubuh penuh luka ... "

Sebagai tanda kasih dan bakti pada suarni, pada saat pembakaran jenazah Ambimanyu, Dewi Siti Sundari melakukan BELA PATIO Istri pertama Abimanyu itu menerjunkan diri ke dalam api pembakaran jenazah. Istrinya yang lain, Dewi Utari tidak melakukan hal yang sama, karena ketika itu sedang mengandung tua. 

Dalam cerita pewayangan, perkawinan antara Abimanyu dan Dewi Utari terselenggara sesudah Abimanyu memenangkan sebuah sayembara. Menurut sayembara itu, barang siapa sanggup menggendong Dewi Utari, ialah yang akan menjadi suaminya. Banyak pangeran dan raja yang mencoba mempersunting putri raja Wirata itu, namun tidak seorang pun yang sanggup menggendong Utari, kecuali Abimanyu. Hal ini disebabkan karena Dewi Utari adalah putri yang mendapat Wahyu Widayat, sedangkan Abimanyu adalah ksatria yang memperoleh Wahyu Cakraningrat. 

Dalam Kitab Mahabarata cerita mengenai perkawinan itu lain lagi. Setelah Arjuna yang masih dalam penyamaran sebagai banci bernama Brehanala berhasil membantu memukul mundur serangan Astina atas Kerajaan Wirata, sebagai ungkapan rasa terima kasih Prabu Matsya menghadiahkan Dewi Utari (dalam kitab itu disebut Utara) kepadanya untuk diperistri. Namun Arjuna walaupun amat menghargai hadiah itu, ia terpaksa menolak, karena selama setahun menyamar di Wirata, dan mengajar putri bungsu Prabu Matsya itu, ia sudah menganggap Utari sebagai anaknya sendiri. Ia mengusulkan agar Utari dikawinkan dengan Abimanyu, anaknya. Usul ini disetujui Prabu Matsya (dalam pewayangan disebut Prabu Matswapati), dan terjadilah perkawinan Abimanyu dengan Dewi Utari. 

Perkawinan itu diselenggarakan secara meriah di Upalawya, daerah Wirata yang dijadikan pasanggrahan oleh para Pandawa. Antara lain, pesta itu dibadiri oleh Prabu Kresna, Prabu Baladewa, Prabu Drupada, Prabu Salya, Resi Bisma, dan Begawan Drona, serta beberapa raja dari negara tetangga Wirata. 

Tentang kematian Abimanyu, dalam Mahabarata dikisahkan, pada hari ke-13 itu Patih Sengkuni merancang gelar perang Cakrabhuya dengan tujuan menjebak ksatria Pandawa masuk dalam perangkap kepungan Namun Resi Drona mengingatkan babwa strategi itu mengandung kelemahan, karena Arjuna sudah faham akan gelar perang itu. Dengan demikian Arjuna tentu akan memperingatkan saudara-saudara dan panglima pibak Pandawa lainnya agar tidak terjebak. Patih Sengkuni itu, sehingga strategi gelar perang Cakrabhuya dilaksanakan pihak Kurawa. Supaya siasat perang ini berhasil, Duryudana lalu memerintahkan Prabu Susarma dari Kerajaan Trigarta agar menantang Arjuna berperang tanding, lalu mengusahakan agar Arjuna menjauh dari tengah gelanggang Kurusetra. Bilamana Arjuna jauh dari gelanggang, gelar Cakrabhuya tentu akan berhasil. Karena Arjuna tidak akan sempat memperingatkan pasukannya akan bahayanya gelar Cakrabhuya.
Pada pagi hari itu Susarma berhasil membuat panas hati Arjuna, sehingga ksatria Pandawa itu mengejarnya sampai jauh ke luar gelanggang. Menjelang tengah hari, siasat perang Cakrabhuya digelar. Bima dan Puntadewa ragu-ragu menghadapi siasat perang lawannya itu. Namun Abimanyu segera mengajukan dirinya, karena ia tahu sedikit tentang siasat perang itu.

"Hamba sanggup menerobos barisan Kurawa, namun hamba tidak tahu jalan keluamya .. ," katanya.
Puntadewa menjawab: "Majulah, karena kami semua akan selalu berada di belakangmu." Ternyata, setelah Abimanyu maju, Bima dan Puntadewa serta barisan Pandawa lainnya tidak dapat mengikuti Abimanyu karena barisan Kurawa yang dikoordinasikan Begawan Drona segera menutup gerakan mereka. Abimanyu terkepung sendirian di tengah barisan musuh. Sekaligus ia harus menghadapi tujuh orang panglima perang, yaitu Resi Drona, Patih Sengkuni, Aswatama, Kama, Dursasana, Salya, dan Duryudana. 

Sebelum gugur, Abimanyu sempat membunuh Lesmana Mandrakumara dan .mempermalukan Begawan Drona serta Prabu Salya dengan melukai mereka. Ia juga sempat bertanya, mengapa orang-orang yang ia hormati itu sampai hati melanggar hukum perang dengan mengeroyok dirinya.
Dalam pergelaran Wayang Orang gaya Surakarta, tokoh Abimanyu biasanya diperankan oleh penari
wanita. Sedangkan pada Wayang Orang gaya Yogyakarta, Abimanyu umumnya diperankan penari pria yang bertubuh kecil dan ramping. Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, Abimanyu dilukiskan dalam tiga wanda, yakni Padasih, Sedet, dan Kanyut. Sedangkan pada gagrak Surakarta, terdiri atas sebelas wanda, yakni Bontit, Banjed, Brebes, Jayenggati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, dan Bulus. Pada Wayang Kulit Purwa Jawatimuran, Abimanyu dirupakan dalam dua bentuk, yakni Abirnanyu are, yang rambutnya diurai sampai ke bahu; dan Abimanyu ukel, yang rambutnya digelung mirip Arjuna. Abimanyu are digunakan untuk peran masa remaja, sedangkan yang ukel untuk Abimanyu dewasa. - Selesai -

Berbagai Lakon yang Melibatkan Abimanyu 
Abimanyu Lair (Lahirnya Abimanyu)
Bambang Senggoto (Bambang Semboto)
Bambang Wijanarka
Abimanyu Kerem
Abimanyu Gendong
MurcaLelana
Bima Kopek
Abimanyu Krama
Gendreh Kemasan
Gambir Anom
Wahyu Cakraningrat
Wahyu Widayat
Kitiran Petak (Kitiran Putih)
Mayanggana
Abimanyu Gugur (Baratayuda)
ENSIKLOPEDI WAYANG INDONESIA

Add your message to every single people do comment here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search

MARI KITA JAGA DAN LESTARIKAN BUDAYA WAYANG KULIT INDONESIA