ADIRATA - PRABU RADEYA

Kisah Adirata: Sang Kusir Penjemput Takdir

Di balik gemerlap takhta Astina dan denting senjata para ksatria, terselip sebuah kisah tentang ketulusan yang melampaui garis darah. Sejarah sering kali hanya mencatat para raja dan pahlawan, namun jagat pewayangan takkan pernah melupakan sosok bersahaja yang tangannya kasar oleh tali kendali kuda, namun hatinya selembut sutra. Ia adalah Adirata, seorang lelaki yang dipilih semesta untuk menjaga rahasia terbesar dewa: sang putra surya yang terbuang.


Perjalanan Hidup Adirata

Dalam khazanah pewayangan Jawa, khususnya Gagrak Surakarta, Adirata dikenal sebagai sosok Sais atau kusir kereta utama di Kerajaan Astina. Meski hidup dalam lingkaran istana, ia tetap menjaga kerendahhatiannya. Bersama istrinya, Dewi Nanda (atau Radha dalam versi India), mereka menjalani hidup yang sunyi karena belum dikaruniai keturunan. Kesunyian itu berakhir di tepi Sungai Gangga (atau Swilugangga).

Ketika sedang mencari ikan atau sekadar membersihkan diri, mata Adirata tertuju pada sebuah kendaga (kotak kayu) yang terapung-apung, berpendar karena cahaya keemasan yang memancar dari dalamnya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati bayi laki-laki mungil yang mengenakan anting-anting dan baju zirah emas yang melekat di kulitnya. Tanpa ragu, Adirata membawa pulang bayi itu, menamainya Basukarna, dan merawatnya dengan kasih sayang yang melebihi anak kandung sendiri.

Perbedaan Versi: Antara Kusir dan Raja

Ada pergeseran menarik dalam berbagai tradisi cerita:

  • Versi Kitab Mahabharata: Adirata (Adhiratha) adalah sahabat sekaligus kusir kepercayaan Raja Dhritarashtra. Meskipun ia bukan bangsawan, ia memiliki martabat tinggi. Dalam versi ini, Karna sering dijuluki "Sutaputra" (Anak Kusir), sebuah sebutan yang kelak menjadi bahan hinaan para Pandawa, namun Adirata tetap menjadi tempat Karna pulang untuk mencari kedamaian.

  • Versi Pedalangan Jawa: Sebagian dalang memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada Adirata dengan menyebutnya sebagai raja di Petapralaya, sebuah kerajaan kecil di bawah pengaruh Astina. Hal ini sering kali digunakan untuk memberikan legitimasi bahwa Karna, sebagai anak angkatnya, tetap memiliki latar belakang kepemimpinan sebelum akhirnya ia diangkat menjadi Adipati di Awangga oleh Duryudana.

Ketulusan yang Mengubah Sejarah

Sepanjang hidupnya, Adirata tidak pernah menghalangi cita-cita Karna untuk menjadi ksatria, meskipun ia tahu kasta "Suta" atau kusir akan menyulitkan anaknya. Ia memberikan dukungan moral yang luar biasa. Hingga menjelang pecahnya Bharatayuda, ketika Kunti datang mengakui bahwa Karna adalah putranya, Karna tetap memberikan penghormatan tertinggi kepada Adirata dan Nanda. Bagi Karna, orang tua adalah mereka yang membasuh lukanya dan memberinya makan, bukan sekadar mereka yang memberikan darah.

ADIRATA - yang juga bergelar Prabu Radeya, adalah raja Petapralaya. Istrinya bernama Dewi Nadha  arau Radha. Mereka tidak mempunyai anak. Setelah mohon petunjuk Dewa, Adirata bertapa ditepi sungai swilugangga, dan tak lama kemudian dia menemukan sebuah kendaga, kotak kayu berisi seorang bayi. Bayi itu dipungut anak dan di beri nama Basukarna.

Adirata menurut Kitab Mahabarata, menjadi tokoh bukan karena ia sakti atau mempunyai darah bangsawan. Ia adalah ayah angkat Adipati Karna, atau basukarna, yang sebenarnya adalah anak sulung Dewi Kunti dari Batara Surya. Kedudukannya sebagai ayah angkat Karna itulah yang menyebabkan namanya tercatat dalam dunia pewayangan.

ADIRATA, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta karya Ki Bambang Suwarno.

Adirata sendiri pada awal mulanya adalah seorang Sais atau kusir kereta dan pemelihara kuda-kuda milik Kerajaan Astina. Suatu hari ketika pergi menangkap ikan, ia menemukan seorang bayi dalam sebuah peti yang terapung di sungai. Bayi itu adalah Karna yang dibuang oleh ibunya atas perintah Prabu Kuntiboja, raja Mandur, ayah Dewi Kunti Nalibrangta. Bersama istrinya yang bernama Nanda, dipeliharanya bayi itu baik-baik dengan penuh kasinh sayang. Kebetulan Adirata dan Nanda memang tidak mempunyai anak, kelak setelah Karna dewasa, anak angkatnya itulah yang kemudian mengangkat derajat Adirata. Sampai menjelang pecahnya Baratayuda, Karna tetap mengira Adirata dan Nanda adalah ayah dan ibu kandungnya.

Tentang Adirata ini, sebagian dalang menyebutkan bahwa ia adalah seorang raja di Petapralaya, kerajaan kecil jajahan Astina. Cerita mengenai Adirata ini agak berbeda antara pewayangan dengan Kitab Mahabarata. Pada Kitab Mahabarata, Adirata bukanlah sais kereta kerajaan Astina, melainkan raja sebuah negeri kecil bernama Angga yang merupakan negeri taklukan Kerajaan Astina. Dalam Mahabarata Adirata dituliskan dengan ejaan Adhiratha, dan istrinya bukan bernama Nanda, melainkan Radha. Karena itulah Adipati Karna terkadang disebut Radhea, yang artinya anak Radha.

Adirata adalah personifikasi dari cinta tanpa syarat. Melalui tangannya, seorang bayi buangan tumbuh menjadi ksatria paling ditakuti sekaligus paling dermawan di muka bumi. Kisah Adirata mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau nasib saat lahir, melainkan oleh ketulusan dalam mengasuh dan menjaga amanah kehidupan. Hingga akhir hayatnya, ia tetaplah sang kusir yang berhasil mengantarkan "matahari" menuju puncak kejayaannya.


Posting Komentar untuk "ADIRATA - PRABU RADEYA"