ONTOSENO NDUGAL KEWARISAN - LAHIR RABI NGRAMAN GUGAT KHAYANGAN HINGGA MOKSANYA SATRIO PALING SAKTI

Penyempurnaan Kisah Sang Satria Samudra: Ontoseno

1. Karakteristik dan Kesaktian Fisik

Selain tidak mau menggunakan bahasa kromo (ngoko kepada siapa saja), ada ciri fisik dan kesaktian Ontoseno yang sangat ikonik namun belum terperinci dalam teks Anda:

  • Sisik Udang: Tubuh Ontoseno tertutup oleh sisik halus (karena ibunya adalah Dewi Urangayu, putri raja ikan/udang). Sisik ini membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata tajam.

  • Lidah dan Ludah Api: Ontoseno memiliki kesaktian pada lidahnya. Apa pun yang ia jilat atau terkena air ludahnya akan lebur atau mati. Inilah mengapa ia sangat ditakuti meski bicaranya ceplas-ceplos.

  • Kemampuan Menyelam: Sebagai putra penguasa samudra, ia mampu hidup di dalam air dan amblas ke dalam bumi dengan kecepatan luar biasa.

2. Filosofi "Ndugal Kewarisan"

Penting untuk ditegaskan bahwa sikap ndugal (nakal/pemberontak) Ontoseno adalah bentuk kejujuran radikal. Di dunia pewayangan yang penuh tata krama feodal, Ontoseno hadir sebagai cermin bahwa:

"Kemuliaan seseorang tidak dilihat dari seberapa rendah ia menyembah atau seberapa halus ia bicara, melainkan dari ketulusan hati dan keberpihakannya pada kebenaran."


3. Penajaman Kisah: Rahasia Kematian (Moksa)

Bagian akhir cerita Anda menyebutkan ia moksa setelah membunuh Batara Kala. Dalam pakeliran yang lebih umum (khususnya lakon Lelampahan Wisanggeni & Ontoseno), alasan moksanya jauh lebih tragis dan heroik.

Tambahan Narasi: Menjelang perang Bharatayuda, Ontoseno dan Wisanggeni (putra Arjuna) menghadap Sang Hyang Wenang. Mereka bertanya, "Siapakah yang akan menang dalam perang besar nanti?"

Sang Hyang Wenang menjawab bahwa Pandawa akan menang, asalkan Ontoseno dan Wisanggeni tidak ikut campur. Mengapa? Karena kesaktian mereka berdua terlalu besar (melebihi dewa). Jika mereka ikut berperang:

  1. Musuh akan hancur seketika, sehingga esensi "perjuangan" Pandawa hilang.

  2. Keseimbangan alam semesta akan rusak karena kekuatan mereka yang tak terkendali.

Mendengar hal itu, dengan jiwa ksatria yang murni (tanpa pamrih jabatan atau kejayaan), Ontoseno dan Wisanggeni memilih untuk "Tawur" (mengorbankan diri sebagai tumbal kemenangan). Mereka bersedia moksa sebelum perang dimulai agar ayah-ayah mereka (Pandawa) bisa meraih kemenangan secara terhormat.

Proses Moksa: Ontoseno tidak mati karena senjata. Ia moksa dengan cara memandang telapak tangan Sang Hyang Wenang. Tubuhnya perlahan mengecil, melarut, dan jiwanya menyatu dengan keabadian (moksa). Ia meninggal tanpa meninggalkan jasad, sebuah pengorbanan tertinggi demi tegaknya Dharma.


4. Hubungan dengan Wisanggeni

Perlu ditekankan bahwa dalam banyak lakon, Ontoseno hampir selalu berpasangan dengan Wisanggeni. Mereka adalah "Duo Maut" yang menjadi momok bagi para dewa yang tidak adil dan kaum Kurawa.

  • Wisanggeni adalah otak dan kecerdikan.

  • Ontoseno adalah otot dan eksekusi. Keduanya sama-sama tidak bisa berbahasa kromo dan menjadi simbol perlawanan terhadap kemunafikan.


Ringkasan Urutan Hidup (Sistematika Cerita):

  1. Lahir: Dari rahim Dewi Urangayu, lahir prematur karena tantangan dewa menghadapi Prabu Kimtoko.

  2. Masa Kecil: Diasuh di dasar samudra dan di bawah bumi oleh Sang Hyang Anantaboga.

  3. Pencarian Ayah: Bertemu Petruk (Lakon Ontoseno Takon Bapa) dan akhirnya diakui oleh Werkudoro setelah membuktikan kesaktiannya menghajar Kurawa.

  4. Kiprah: Menjadi pelindung Pandawa dari balik layar, sering membereskan masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan diplomasi formal.

  5. Asmara: Menikahi Dewi Janokowati melalui sayembara atau penyamaran.

  6. Ujian Tahta: Menguji kelayakan Abimanyu sebagai penerus tahta Astina (Lakon Gajah Anti Suro).

  7. Akhir Hayat: Menerima takdir untuk tidak ikut Bharatayuda dan memilih moksa demi kemenangan Pandawa.


di dalam naskah Mahabharata dan parata juga tidur ditemukan toko Ontoseno demikian pula dalam gagrak pakeliran Surakarta. pengertian lain ghagra background Surakarta mengidentikkan tokoh-tokoh Sinom dengan pot torjo kesatria dari Kesatrian puser bumi yang merupakan Putra Werkudoro dan Dewi nokini Putri Sanghyang mantap ogah penuh dalam gagrak pakeliran Yogyakarta dan gagrak pakeliran Banyumas Ontoseno yang diidentikkan dengan Juan Taiwan dalam gagak pakeliran Cirebon dihadirkan sebagai tokoh yang mandiri sungguhpun dengan ontorejo sama-sama merupakan Putra warkudoro namun Ontoseno tidak lahir dari Dewi notebook ini melainkan lahir dari Dewi urangayu yang merupakan Putri Sanghyang baruno hubungannya dengan ontorejo-ontoseno merupakan Adit satu bapak beda Ibu selain memiliki seorang kakak bernama ontorejo-ontoseno memiliki karakter satu bapak beda Ibu lain yang bernama gatotkoco Putra warkudoro yang lahir dari Dewi Arimbi Putri Prabu tremboko atau pendukung dari kerajaan Pringgondani dengan demikian gagal parkiran Yogyakarta menempatkan Ontoseno sebagai putra bungsu Werkudoro di dalam gagrak pakeliran Banyumasan untuk Seno Tidak Dianggap sebagai putra bungsu orutoro mengingat Ontoseno masih memiliki dua adik yakni srenggini dan poncoseno segini merupakan poetronegoro yang lahir dari Dewi rekatawati sementara poncosilo merupakan Putra Werkudoro yang lahir dari Dewi Sri Gianti selain untuk joker.co segini dan poncoseno Ontoseno masih memiliki beberapa saudara yang jarang dikisahkan oleh seorang dalang dalam pagelaran wayang Purwa beberapa saudara Ontoseno yang belum disebutkan dimuka antara lain sangoko Projo serong maju Segoro Werkudoro Ki Seno pt.kso Dewi Susilowati work Kuduro and Ferb toroan roko Aryo koyok passeno dan aribawono dalam Jagad pakeliran baik Yogyakarta Banyumas maupun Surakarta pada era pembaruan Ontoseno dikenal sebagai tokoh yang untuk call kewarisan dikatakan Google karena Ontoseno tidak mau tunduk pada tradisi unggah-ungguh yang sering menjebak manusia pada sikap tidak jujur dan penuh kepalsuan sungguhpun demikian Ontoseno tetap menghormati kepada saudara tua orang tua dan leluhurnya lalu sikapnya yang buka hari jujur dan apa adanya dikatakan kewarisan karena Ontoseno yang memiliki sifat menduga itu mendapat izin atau restu dari sang yang poto nang mengingat sifat Googlenya Ontoseno bukan untuk membuat gede awan di dunia melainkan untuk menjaga kelestariannya untuk Seno sebagai kritikus atas tradisi basa-basi yang berlangsung baik di dalam maupun di luar lingkungan istana dalam Jagad pakeliran sifat menduga kewarisan Ontoseno digambarkan oleh setiap dalang Dimana toko tersebut tidak mau menggunakan Poso chromatium dan kromo inggil saat berdialog dengan saudara tua orang tua dan parasut pada akhirnya untuk Seno bisa disamakan dengan sifat workout Uro ayahnya patoro payung kakeknya dan Wisanggeni Saudara sepupunya selain Tidak mau menggunakan boso alus Ontoseno tidak mau pupuk bersilat untuk melakukan sembah kepada orang yang lebih tua meskipun ndugal kewarisan Ontoseno memiliki jiwa yang terpuji Ontoseno suka menolong kepada orang lemak dan berpihak pada kebenaran karenanya untuk Seno tidak pernah takut kepada orang jahat yang akan mengacaubalaukan dan menghancurkan ketentraman di dunia dari sini bisa disebut bahwa prinsip hidup Ontoseno adalah hal memayu hayuning Bawono pada Jagad pakeliran toko Ontoseno sering ditampilkan dalam beberapa lakon carangan diantaranya Ontoseno lahir Ontoseno takon bopo ataupun colok Romo Ontoseno homo contoh sendok Rachman Wahyu goto Intens atau sate Um ruang dan beberapa kisah lain berikut rangkaian lakon yang berkaitan dengan pancaran Ontoseno kisah hidupnya dari lahir hingga kematiannya [Musik] nyentuh jujur itu dikisahkan pandito Purwo melaksanakan pendaftaran bagi siswa-siswanya dalam pola senjata saat itu Werkudoro diadu dengan tuh Yudhoyono dalam pola senjata Godong karena dikalahkan oleh warkudoro duryudono sakit hati dari sakit hati itulah duryudono memerintahkan pada tool Songo untuk menganiaya warkudoro dikala sedang mabuk berat seusai pesta warkudoro diikat oleh tour sono dan picek pulkam ke sungai yamuna Werkudoro yang hanyut ke dasar sungai jamuna itu terbawa arus hingga kisik Narmada suatu fisik yang merupakan pertemuan sungai yamuna dan sungai Gangga di sana Werkudoro yang telah mati dihidupkan oleh rezim kuno atau Sanghyang paruno dengan curut How Sugondo sesudah tertolong jiwanya Werkudoro dinikahkan oleh Sanghyang baruno dengan putrinya yang bernama Dewi urangayu Kuduro pun kemudian pulang katino Sesudah berbulan madu dengan TNI uang ai-7 bulan sudah Dewi urangayu mengandung benih warkudoro oleh Batoro Naruto janin yang belum sempurna di kandungan urang Ayu itu dilahirkan secara paksa diadu dengan Prabowo kimtoko yang ingin menyunting Batari Kamaratih karena dilindungi Sang Hyang Wenang bayi urangayu yang kemudian Rina beruntung Seno itu berhasil membunuh brewok.inc tokoh karena menunjukkan sifat menduga laku warisannya Ontoseno dititipkan oleh Sanghyang paruno kepada Sang Hyang anantaboga untuk mengasuhnya Sampai usia remaja Ontoseno belum mengetahui siapa ayahnya kepada Sanghyang ontobugo yang tinggal di Kahyangan saptopratolo itu Ontoseno menanyakan Siapakah pengukir raganya hingga dilahirkan timurejo photo oleh Ananto Pogo Ontoseno mendapat jawaban bahwa Ayahnya adalah Kesatria jodhipati bernama worth utoro yang juga bernama wijoseno bayuseto atau Brotoseno usai mendapatkan penjelasan tentang siapa ayahnya dari Sang Hyang antaboga Ontoseno bermaksud meninggalkan Sabtu Euro untuk mencari Werkudoro di Kesatrian Jodipati agar perjalanan Ontoseno tidak tersesat untuk pukul memberikan petunjuk bahwa tanah di Kesatrian Jodipati seperti tanah di kawasan amarto lainnya yang senantiasa menyebarkan bau harum untuk Zero bergerak di dasar bumi menuju Kesatrian hiu tiba-tiba mencium tanah yang berbau harum Ontoseno muncul dari dalam bumi tetapi tanah yang dipijak Ontoseno Ternyata bukan Kesatrian Jodipati melainkan Taman mematuk Onto suatu Taman timana Petruk Tengah melindungi poncowolo yang tengah bercengkrama dengan Dewi pergiwati Putri Arjuno mereka dilindungi Petruk karena poncowolo akan tetangga boleh kurowo yang menghendaki pergiwati menikah dengan saldo Kusumo Putra Prabu yutono mendengar penuturan Ontoseno yang akan mencari ayahnya Petruk mengaku bahwa dirinyalah yang dimaksud yakni Werkudoro Petruk mau mengakui Ontoseno sebagai putranya bila dapat memukul mundur orang-orang yang datang ke taman madu kondom untuk menangkap poncowolo tanpa berpikir tidak kali Ontoseno bersedia memenuhi permintaan Pitung itu selang beberapa saat datanglah barisan kurowo ke taman waduk untuk melihat kedatangan turis Sono kartomarmo citraksa citraksi tuh moga Titan lainnya Ontoseno segera bertindak menghajar kurowo tanpa ampun karena tak kuasa melawan Ontoseno kurowo berlari itu Hai melenggang meninggalkan Taman Waduk Koto belum sempat beristirahat tiba-tiba datanglah ontorejo ontorejo mengaku bahwa dirinya adalah kakak dari Ontoseno kedua kakak-adik itu kemudian saling berpelukan Ontoseno mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan warkudoro ayahnya tentu saja untuk Rojo terkejut karena ayahnya tidak ada di situ namun setelah mengetahui bahwa Futuro yang dimaksud Ontoseno adalah prito marahlah ontorejo sebelum ontorejo menghajar betro datanglah Arjuno yang bermaksud menikahkan poncowolo dan pergiwati kala itu Arjuno sedang bermusuhan dengan kakaknya sendiri Puntodewo disaksikan Ontoseno ontorejo dan Petruk Arjuno Pupun cowok dan pergiwati di hadapan raksasa putih yang merupakan tiwikromo Prabu Puntodewo mengetahui putranya telah dinikahkan Arjuno bunuhlah Ati raksasa putih itu dia berubah wujud kembali menjadi Puntodewo dengan demikian hanya poncowolo dan pergiwati perseturuan antara Arjuno dan Puntodewo pun berakhir Berbahagia lah kedua kakak-beradik itu sebagaimana dirasakan juga oleh sepasang pengantin poncowolo dan pergiwati cute adalah Janoko Ati putri dari Arjuno dia tidak Setia menikah dengan Ontoseno baginya Ontoseno tidak bisa berbahasa kromo serta tidak bisa menyembah kepada saudara orangtua dan para sepuh namun calo Wati pada akhirnya bersedia setelah Ontoseno dirias oleh Arjuno hingga menjadi Kesatria jauh lebih tampan dan bisa berubah Ungu januwati bersedia menjadi istri Putra woro itu Ontoseno merupakan ksatria yang dihormati dan selalu Pia Mini gagasannya oleh para putra pandawa lain hal ini terbukti pada saat Ontoseno ingin menguji siapa putra Pandowo yang kuat menduduki tampar atau Singgasana warisan Prabu Pandu dewonoto the Astina suatu ketika Ontoseno mengamuk beastin cara membuat duryudono dan seluruh kurowo melarikan diri meninggalkan istana Patih Sengkuni yang tidak sempat menyelamatkan diri berhasil ditangkap oleh para Putra Pandowo hingga menjadi tawaran Ontoseno sesudah tidak ada lagi perintang Ontoseno ingin menjajal kemampuan dirinya dan anak-anak Pandawa yang lain untuk menduduki ditampar atau singgasana astino yang memiliki kekuatan gaib meskipun telah dicoba beberapa kali upaya para Putro Pandowo untuk mendudukinya ternyata mengalami kegagalan mereka terpental dan juga terjatuh Sebelum berhasil mendudukinya mengetahui tidak ada Putra Pandowo yang kuat duduk ditampar astino Ontoseno meminta pendapat Patih Sengkuni mengenai persyaratan untuk menjadi Giardino akhirnya sekuni berkata bahwa Ontoseno harus melepaskan gajah Kyai anti Suho gajah itulah nanti yang akan memilih dan mendudukkan mereka yang dianggap layak Duduk di singgasana setelah gajah Kyai anti Suro benar-benar the datangkan seluruh Putra Pandowo terkejut karena ternyata tidak ada satupun diantara mereka dipilih dan didudukkan oleh Kyai anti Suho ke dampar meski demikian mereka tidak akan pulang ke amarto sebelum mengetahui siapa Kesatria yang akan dipilih antisura untuk menduduki tampara still Kyai antisura kemudian dilepaskan namun beberapa waktu kemudian dia kembali castino dengan membawa seseorang yakni a Abimanyu Ontoseno beserta para Putro Pandowo tampak berbahagia ketika Kesatria Jeng didudukkan oleh anti suro itu ternyata saudara mereka sendiri karena belum saatnya menjadi raja Abimanyu kemudian turun dari dampar diam memilih pulang bersama Ontoseno ke amaranto sudah menyerahkan kembali kekuasaan Mas Dino kepada tour Yudhoyono [Musik] menjelang perang pronto Yuto diri Mbak Rus ato Ontoseno beserta Wisanggeni diundang oleh Sanghyang podo nang untuk datang ke Kahyangan alang-alang Kumitir dari Sang Hyang Wenang mereka mengetahui bahwa nama mereka tidak Hai dicatat di kitab-kitab Solo sebagai Senopati amarto meski demikian mereka Direstui Sang Hyang podo nang untuk membunuh faktor kolo yang merupakan musuh Pandowo untuk kepentingan itu Sang Hyang poto nang memberi sebuah pusaka bernama Kyai Koto intense Ontoseno dan Wisanggeni pun turun Gem arcopodo baru saja menjejakkan kakinya di muka bumi Mereka melihat kelebat bayangan Batoro kolo yang dalam perjalanan memangsa Pandowo pantau berpikir jauh mereka mengejar pad Purwono ingga kotapraja amarto perahu tanding antara Ontoseno dan Wisanggeni melawan badoro kono tidak bisa dihindari berkat pusoko gygo tointon mereka berhasil menggagalkan niat Barokallah untuk memangsa Fun Doh Hai ditangan mereka Barokallah Brazil dibunuh seusai kematian patoro kolo Ontoseno dan Wisanggeni menganggap selesai tugasnya menunaikan darmadi marjo photo keduanya kemudian moksa Sukma dan raganya singgah damai di alam Keabadian bersamaan dengan waktu moksanya Ontoseno dan Wisanggeni Sadewo karena itu Tengah meruwat Sanghyang badari turgo berkat ruwatan Sadewo turgo yang semula dikutuk menjadi raksasa oleh Sang Hyang girinata berubah wujud menjadi Bidadari rumah yang berparas cantik dan menawan sebelum singgah di kayangan Suroloyo sebagai istri girinoto Umah merestui Pandowo untuk mendapatkan kejayaan dalam perang potong Jusuf Hai senyum mu

Posting Komentar untuk "ONTOSENO NDUGAL KEWARISAN - LAHIR RABI NGRAMAN GUGAT KHAYANGAN HINGGA MOKSANYA SATRIO PALING SAKTI"