Kisah Abiyasa menjadi Raja

- May 25, 2018
Abiyasa sebagai Raja Astina
Wayang Kulit Purwa Gagrak Surakarta
Wayang - Sebagai seorang pertapa sesungguhnya Abiyasa tidak pernah berkeinginan menjadi raja. Lagi pula, ia merasa tidak berhak menduduki takhta Kerajaan Astina, karena ia tahu yang lebih berhak adalah Resi Bisma alias Dewabrata, putra Prabu Sentanu, raja Astina terdahulu. Namun karena Resi Bisma sudah bersumpah tidak akan menduduki takhta Astina, Abiyasa terpaksa menuruti kehendak ibunya menjadi Raja. Ibu Abiyasa, Dewi Durgandini, sesudah berpisah dengan Palasara menjadi permaisuri Prabu Sentanu.


Sebelum Abiyasa naik takhta yang menjadi raja Astina adalah Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra Dewi Durgandhini dari Prabu Sentanu itu tidak berumur panjang keduanya mati muda. Sebenarnya, selain mengemban tugas menjadi raja Astina, secara langsung Abiyasa juga mempunyai kewajiban untuk melanjutkan garis keturunan keluarga Barata atau keluarga Kuru.

Kedua tugas dari ibunya itu ditunaikannya dengan baik. Selain mengisi lowongan takhta Kerajaan Astina, oleh Dewi Durgandini, Abiyasa juga disuruh mengawini janda-janda kedua adik tirinya. Dengan demikian ia telah membuahkan anak-anak pelanjut keturunan sebagaimana dikehendaki ibunya.

Setelah usianya lanjut, dan setelah pewaris tahta Astina ada, Abiyasa meletakkan jabatan sebagai raja, pergi kembali ke Gunung Rahtawu untuk menjadi pertapa lagi. Kepada anak-anak dan cucu-cucunya ia selalu bersikap adil, walaupun ia sadar para Kurawa sering berbuat tidak jujur kepada para Pandawa. 

Kedua janda adik tirinya yang dikawini oleh Abiyasa itu bemarna Dewi Ambika dan Ambalika. Keduanya adalah putri Prabu Darmarnuka dari Kerajaan Giyantipura. Mulanya kedua putri itu sekaligus menjadi permaisuri Prabu Citranggada. Setelah Citranggada meninggal, keduanya diperistri Wicitrawirya. Dan, sewaktu Prabu Wicitrawirya juga meninggal, keduanya lalu menjadi istri Abiyasa. Tetapi setelah perkawinan itu, di luar kemauan Abiyasa pula, ia mengambil seorang dayang istana sebagai selirnya. Nama dayang itu adalah Drati. 

Wayang Kulit Purwa Gagrak Jawa Timur
Dari ketiga wanita yang diperistrinya itu masing-masing Abiyasa mendapat seorang putra. Ketiga putra itu diberi nama Drestarastra, Pandu Dewanata, dan Yama Widura. Ketiganya cacat tubuhnya. 

Drestarastra yang tunanetra sejak lahir kemudian menurunkan para Kurawa, sedangkan Pandu Dewanata yang cacat pada lehernya serta berwajah pucat, menurunkan para Pandawa. Putra Abiyasa yang bungsu, Yama Widura, panjang sebelah kakinya, dan kemudian menjadi penasihat 
Kerajaan Astina. 

Cacat tubuh yang diderita ketiga anaknya itu sebenamya disebabkan karena kutukan dewa, sebab ketiga istrinya merasa jijik ketika harus melayani Abiyasa di tempat tidur. Walaupun pribadinya terpuji dan selalu bersikap lembut, Abiyasa memang berwajah buruk, kulitnya kasar, dan hitam. Penampilan badaniah Abiyasa memang sangat berbeda dengan suami-suami kedua putri itu dulu. Baik Prabu Citranggada maupun Wicitrawirya, keduanya tampan dan gagah. 

Dewi Arnbika selaku istri pertama selalu memejamkan matanya pada saat harus melayani suaminya di ranjang. Akibatnya, ia dikutuk para dewa sehingga anak yang kemudian dilahirkannya buta. Anak itu diberi nama Destarata atau Drestarastra. 

Istri Abiyasa yang kedua, Dewi Ambalika, dengan wajah pucat selalu memalingkan muka bila bertugas selaku istri. Wajah putri itu pun selalu pucat di tempat tidur. Ia pun dikutuk para dewa sehingga bayi yang dilahirkannya mempunyai leher kaku dan pucat wajahnya. Bayi itu diberi nama Pandu Dewanata. Karena enggan melayani suaminya di tempat tidur, kedua istri Abiyasa itu sepakat untuk menyelundupkan seorang dayang istana bemama Drati kekamar peraduan Abiyasa. 

Ternyata dayang Drati, yang kemudian diambil sebagai selir pun tidak ikhlas dalam melayani Abiyasa sebagai suaminya. Ia selalu mengelinjangkan kakinya bila sedang melayani Abiyasa. Karena itu ia juga dikutuk dewa sehingga bayi laki-laki yang dilahirkannya cacat. Putra Drati diberi nama Yama Widura, yang panjang sebelah kakinya. 

TlGA orang putra Abiyasa. Dari kiri ke kanan:
Drestarastra, putra Dewi Ambika; Pandu Dewanata, putra Dewi Ambalika; dan Yama Widura, putra Dayang Drati

Karena Drestarastra tunanetra, takhta Astina diwariskan kepada anak yang kedua, Pandu Dewanata. Keputusan ini diambil bukan karena Abiyasa lebih sayang pada Pandu daripada kakaknya, tetapi semata-mata karena kepentingan kerajaan. Seorang raja tunanetra, menurut pertimbangan Abiyasa tidak akan dapat menjalankan pemerintahan dengan baik.

Keputusan Abiyasa ini juga disetujui oleh Dewi Durgandhini, ibunya. Dan terbukti keputusan Abiyasa itu memang tepat. Pandu ternyata bisa memerintah Astina dengan baik, adil, dan bijaksana.

Abiyasa berumur sangat panjang, setelah melepaskan mahkota ..... 

Add your message to every single people do comment here
EmoticonEmoticon

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search

MARI KITA JAGA DAN LESTARIKAN BUDAYA WAYANG KULIT INDONESIA