Kisah Abimanyu

- February 24, 2018
Wayang - ABIMANYU putra kesayangan Arjuna dari salah seorang istrinya yang bernama Dewi Subadra, yang dalam pewayangan lebih di kenal dengan sebutan Wara Sembadra. Nama Abimanyu mengandung arti "kalau ia sedang marah, tak ada yang berani mendekat". Abi atau Abhi artinya dekat, manyu artinya marah.

Mengenai kisah kelahiran Abimanyu, dalam pewayangan ada versi lain dalam versi itu Abimanyu bukan lahir dari rahim Dewi Subdra melainkan dari paha Bima.

Kisah lengkapnya sebagai berikut. 
Batara Guru, pemuka kahyangan suatu ketika berkehendak mempersunting Dewi Kuntul Wilanten, putri Prabu Jumanten dari Kerajaan Gendingpitu. Sementara menunggu saat pernikahan, Batara Guru
menugasi Bima menjaga putri cantik itu. Sementara itu, Arjuna yang juga jatuh cinta pada Kuntul Wilanten, melarikan putri Prabu Jumanten itu. Bima yang merasa bertanggungjawab atas sang Putri, marah besar. Arjuna segera dihajar. Tetapi pada saat itu Arjuna sedang disusupi Sang Hyang Wenang, sehingga ia kebal terhadap pukulan dan tendangan Bima. Pada suatu kesempatan Arjuna mengusap perut Bima, dan seketika itu juga Bima hamil. Karena malu dengan keadaan dirinya, ditambah lagi 
malu karena merasa tidak sanggup memenuhi tugasnya menjaga Dewi Kuntul Wilanten, Bima berniat bunuh diri. Ia segera pergi ke Samudra Man-cingan, hendak menceburkan diri di lautan yang ganas itu. Dalam perjalanan Bima dihadang Anoman. Bujukan Anoman agar Bima membatalkan niatnya bunuh diri, tidak dihiraukan. Akhirnya Anoman menolong Bima. Kandungan itu dipindahkan dari perut ke paha Bima. Kemudian Anoman menolong persalinan sang Bayi dari paha Bima. Bayi lahir dengan selamat. Oleh Anoman bayi itu diberi nama Bimanyu sebagai tanda bahwa bayi itu lahir dari paha Bima. Anoman lalu menyerahkan Bimanyu kepada Dewi Subadra untuk disusui. Kebetulan, Dewi Subadra saat itu sedang menderita penyakit kamisandanen, payudaranya bengkak. Penyakit itu hanya akan sembuh bilamana ada bayi yang menyusu padanya.

Bimanyu itulah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Abimanyu. Kisah kelahiran Abimanyu versi ini hanya ada pada sebuah lakon, yaitu lakon Kuntul Wilanten. Bagi ke-banyakan peminat wayang kisah kelahiran Abimanyu yang seperti ini, dianggap sebagai rekaan semata. Bahkan terasa agak mengada-ada. Abimanyu adalah seorang ksatria yang tampan, pen-diam, berilmu tinggi, dan kuat bertapa. Itulah sebabnya ia berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat, yang penting artinya bagi kemenangan keluarga Pandawa dalam Baratayuda di kemudian hari. Menurut pewayangan di Indonesia, siapa yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat kelak akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa. Ketika berusaha memperoleh Wahyu Cakraningrat itu Abimanyu bersaing dengan Lesmana Mandrakumara dan Samba Wisnubrata. Lesmana Mandrakumara adalah putra Prabu Anom Suyudana, raja Astina; sedangkan Samba, putra kesayangan raja Dwarawati, Prabu Kresna. Karena wahyu yang didapatnya itulah maka walaupun sebenarnya anak keluarga Pandawa yang tertua adalah Antareja, anak sulung Bima, namun seluruh keluarga Pandawa seolah sepakat bahwa Abimanyu adalah putra mahkota tidak resrni. 

Abimanyu beristri dua orang. Yang pertama adalah Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna, dan yang kedua Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati dari Kerajaan Wirata. Perkawinannya dengan Dewi Siti Sundari diatur oleh Prabu Kresna yang mengharapkan cucunya dapat menjadi raja di Tanah Jawa. Tetapi perkawinan itu temyata tidak membuahkan keturunan karena istri pertama Abimanyu ini mandul. Sedangkan dengan Dewi Utari, Abimanyu mendapat seorang putra yang tidak sempat ia saksikan kelahirannya. Abimanyu gugur dalam Baratayuda ketika Dewi Utari tengah mengandung tua. Anak tunggal Abimanyu itu dinamai Parikesit. Kelak setelah Baratayuda usai dan Pandawa menang, Parikesitlah yang menduduki takhta Kerajaan Astina. 





Add your message to every single people do comment here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search